Desa Jambu Kecamatan Wangon

Sabtu, 12 Agustus 2017

Siap Mbangun Desa

Seperti diketahui, tahun 2017 ini, Pemkab Banyumas akan kembali menggelar pemilihan kepala desa (pilkades) serentak. Untuk gelombang II ini. Ada 17 desa yang akan berpartisipasi dalam pilkades serentak yang rencananya digelar Desember nanti. Adapun desa-desa yang akan menggelar pilkades antara lain Desa Tumiyang dan Cindaga (Kebasen), Desa Jambu (Wangon), Desa Sirau (Kemranjen), Desa Sokaraja Tengah (Sokaraja), Desa Kracak (Ajibarang), Desa Dermaji (Lumbir), Desa Watuagung dan Gumelar Lor (Tambak), Desa Klinting (Somagede), Desa Cilangkap (Gumelar), Desa Tunjung (Jatilawang), Desa Kebanggan (Sumbang). Dan untuk desa yang melaksanakan pilkades karena kades sebelumnya meninggal yaitu Desa Adisana (Kebasen), Desa Datar (Sumbang), Desa Klahang (Sokaraja), dan Desa Ledug (Kembaran).

Pilkades merupakan salah satu bentuk pesta demokrasi yang begitu merakyat. Pemilu tingkat desa ini merupakan ajang kompetisi politik yang begitu mengena kalau dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran politik bagi masyarakat. Pada moment ini, masyarakat yang akan menentukan siapa pemimpin desanya selama 6 tahun ke depan. Pilkades adalah pembuka jalan pembaharuan desa. Semacam kontrak politik, masyarakat pedesaan juga bisa memanfaatkan momentum Pilkades untuk mencari sosok Kepala Desa yang penuh komitmen untuk pembaharuan desa, daripada terus menerus dibohongi janji-janji semu politik uang.

Desa Jambu merupakan salah satu desa yang akan menyelenggarakan pilkades 2017. Sejauh ini sudah ada satu bakal calon yang akan maju dalam pilkades tersebut yaitu Akhmad Sumarno. Hal ini setelah ada deklarasi pencalonan Kepala Desa Jambu yang dihadiri oleh ribuan warga masyarakat,yang terdiri dari berbagi elemen tokoh masyarakat, tokoh politik, dan tokoh agama di lingkungan Desa Jambu. Bertempat di Karangtengah, Sabtu 29 Juli 2017 malam acara deklarasi tersebut juga dihadiri oleh Bapak Subagyo, S.Pd, M.Si selaku tokoh politik yang membawa aspirasi warga masyarakat untuk memajukan Desa Jambu. Akhmad Sumarno sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama dianggap sebagai sosok yang tepat untuk memimpin Desa Jambu dimasa yang akan datang, sehingga tak luput banyak dukungan mengalir kepadanya. Dengan visi dan misi mbangun desa, Akhmad Sumarno menyatakan “Siap Mbangun Desa”. Dengan didukung oleh kekompakan warga masyarakat yang sudah terjalin dan tekad warga masyarakat agar Desa Jambu lebih maju, serta dukungan dari Bapak Subagyo, S.Pd, M.Si sebagai penyalur aspirasi warga, Akhmad Sumarno optimis untuk membuat Desa Jambu lebih maju. Beberapa keberhasilan pembangunan yang sudah dilaksanakan seperti pengaspalan jalan lingkungan Karangtengah, dan pembangunan jembatan permanen merupakan bukti nyata keberhasilan pembangunan dilingkungan Desa Jambu. Beberapa proyek yang akan dilanjutkan seperti pelebaran dan pengaspalan jalan Karangtengah-Jambu, jalan Karangmiri dan perbaikan jalan dilingkungan Desa Jambu. Akhmad Sumarno juga menyatakan bahwa bukan hanya Karangtengah saja yang akan diperjuangkan akan tetapi Desa Jambu secara umum.
Bakal Calon Kepala Desa Jambu Akhmad Sumarno beserta istri
Warga Masyarakat yang terdiri dari berbagai elemen yang menghadiri acara deklarasi
Pembangunan haruslah merupakan prioritas utama pemerintahan Desa Jambu kedepan agar kesejahteraan masyarakat meningkat. Beberapa dimensi indeks pembangunan desa yang harus dibenahi yaitu pertama Pelayanan dasar, kedua Kondisi infrastruktur, ketiga Aksesibilitas/ transportasi, keempat Pelayanan publik, dan kelima Penyelenggaraan pemerintahan. Jika dilihat dari skala prioritas, pembangunan infrastruktur dan aksesibilitas merupakan prioritas utama Desa Jambu saat ini. Pembangunan yang harus segera dilaksanakan antara lain infrastruktur jalan desa yang belum memadai. Salah satu infrastruktur jalan yang menjadi sorotan publik adalah Jalan Karangtengah-Jambu yang kondisinya rusak dan belum layak untuk dilewati kendaraan seiring telah dibangunnya jembatan permanen. Masyarakat tentunya sudah sangat lelah akan kondisi tersebut. Disisi lain anggaran desa belum mampu untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur yang ada di Desa Jambu sehingga diperlukan upaya seperti penggunaan APBD Kabupaten.

Komitmen untuk membangun desa harus selalu ditanamkan oleh Kepala Desa Jambu dimasa yang akan datang. Kepala Desa Jambu yang terpilih haruslah merupakan sosok pemimpin yang benar-benar mengerti dan memahami penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Pemimpin desa harus membuat daerah maju dan berkembang, membuat perubahan yang dapat membuat desa menjadi lebih baik kedepannya. Pemimpin desa juga harus bisa menjadi motor penggerak dalam menggiatkan perekonomian masyarakat.

Selain komitmen, warga masyarakat juga berharap agar Kepala Desa Jambu yang akan terpilih merupakan tokoh yang mengayomi seluruh warganya sehingga pemerataan pembangunan menjadi salah satu indikator keberhasilan pemerintahan desa. Desa Jambu merupakan daerah yang terbagi menjadi beberapa grumbul yang memiliki kondisi yang berbeda baik sumber daya alam nya maupun sumber daya manusianya. Dengan kondisi seperti ini tentunya butuh seorang pemimpin yang mengerti dan mampu membaca arah kebijakan dalam rangka membangun desanya. Seorang pemimpin harus membuat skala prioritas supaya pembangunan di Desa Jambu merata secara keseluruhan. Semoga komitmen dan harapan warga masyarakat agar Desa Jambu lebih maju dapat tercapai. Aamiin.
Sumber: Redaksi KRT,diolah dari berbagai sumber


Kamis, 29 Juni 2017

Sholat Idul Fitri 1438 H di Karangtengah

Sidang isbat (penetapan) awal bulan Syawal 1438 Hijriah digelar pada Sabtu, 24 Juni 2017 sore yang dilaksanakan oleh Pemerintah kemudian menetapkan 1 Syawal 1438H bertepatan pada hari Ahad 25 Juni 2017. Sidang isbat digelar di auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin Nomor 6, Jakarta. Sidang itu dipimpin Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Dengan ditetapkannya 1 syawal tersebut ditandai dengan gema takbir dari seluruh penjuru tanah air. Masyarakat Karangtengah yang menunggu hasil sidang isbat melalui siaran televisi seketika langsung menyuarakan takbir di masjid dan mushola. Suara takbir menggema di Karangtengah dan sekitarnya semalam suntuk baik tua, muda bergantian seolah berlomba untuk menyerukan takbir.

Pada pagi harinya, ribuan masyarakat Karangtengah berbondong-bondong menuju ke Lapangan Karya Bhakti Karangtengah untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri secara berjamaah. Sebagian besar warga berjalan kaki menuju lapangan, sedangkan sebagian lainnya menggunakan kendaraan. Sesampainya di lapangan mereka langsung menggelar karpet dan sajadahnya kemudian bersama-sama mengumandangkan takbir.

Sebelum pelaksanaan Sholat Ied, terlebih dahulu diumumkan perolehan zakat fitrah oleh Bapak Akhmad Khoerudin dimana perolehan zakat fitrah di wilayah karangtengah sekitar 4 ton beras dan uang tunai. Setelah itu bilal Bapak Mislam mulai bertakbir untuk kemudian melaksanakan Sholat Ied. Sholat Ied dipimpin oleh Bapak Mudianto selaku imam masjid dan khotib adalah Bapak Akhmad Sumarno.

Dalam khutbahnya, Bapak Akhmad Sumarno mengajak kepada para jamaah agar saling memberi maaf di hari kemenangan ini. Hal ini sesuai dengan doa Malaikat Jibril yang kemudian diamini oleh Rosulullah SAW.
“Ya Allah, abaikan puasa umat nabi Muhammad SAW, apabila sebelum ramadhan dia belum:
Memohon maaf kepada kedua orang tua jika keduanya masih hidup.
Bermaafan antara suami istri
Bermaafan dengan keluarga kerabat serta orang sekitar.”
 

Setelah melaksanakan sholat Ied, kemudian dilanjutkan dengan bersalaman secara bergiliran yang dimulai dari imam yaitu Bapak Mudianto dan Khotib Bapak Akhmad Sumarno berjalan menyalami para jamaah. Selesai bersalaman, sebagian jamaah ada yang menuju pemakaman untuk ziarah kubur dan sebagian besar langsung pulang kerumah.

Sumber: Redaksi KRT, Minggu 25 Juni 2017


Kamis, 27 April 2017

Mencari Sesuap Nasi ; Kisah Pemimpin dan Pekerja

Menyikapi berbagai persoalan yang timbul dari sebuah proses kepemimpinan, dirasakan begitu banyak orang yang tumbuh dan hidup darinya. Sikap dan perilaku seorang pemimpin, mencerminkan kepribadian dan tolok-ukur keberhasilannya dalam pengelolaan lembaga yang dipimpin.

Banyak orang yang menyandarkan hidup pada mereka yang memiliki usaha bisnis. Karena itu dalam keseharian di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini, bermunculan kisah-kisah menarik para penghamba pekerjaan. Ada yang sukses menjadi bawahan, baik karena keberaniannya untuk berpegang pada keuletan dan profesionalitas, maupun karena keberhasilannya yang gemilang karena sukses menjilat atasan dan rela mengorbankan hargadiri demi sesuap nasi. 
Zaman yang penuh kemajuan memang begitu kata seorang teman. Penuh dengan pengorbanan karena kebutuhan yang semakin meningkat. Orang-orang rela melangkahkan kaki jauh dari keluarga, meningggalkan anak-istri, orang tua dan kampung halamannya, demi mendapatkan kehidupan yang layak dan menjanjikan. Jadilah manusia negeri ini sebagai seorang yang suka merantau ke negeri lain, hanya dengan harapan yang sangat klise, “merubah nasib.”

Alih-alih memperbaiki nasib yang katanya dengan mencari pekerjaan tersebut, banyak pula kisah ditemui, seorang perantau akhirnya harus merubah eksistensinya dari seorang yang punya “kelebihan” di kampung halaman, menjadi seorang yang harus bersusah payah mencari sesuap nasi.

Sebenarnya, bukan itulah yang terpenting. Wajar saja, untuk merubah nasib yang lebih baik sesuai harapan, seseorang perlu mengambil keputusan yang tepat. Salah satunya dengan menjadi tenaga kerja di berbagai institusi non pemerintah, pabrik, lembaga jasa ataupun lainnya. Apapun bentuk profesi yang dijalani, tentunya akan dapat merubah nasib daripada hidup apa adanya di negeri asal.

Bahkan ada pula sebagian orang, hijrah untuk merubah hidup bukan karena ketiadaan materi di negerinya. Tapi lebih pada upaya menjembatani keterampilan dan keahlian yang dimiliki, yang dirasa tidak mendapat tempat strategis di tempat asal. Mereka rela memulai hidup, yang kadang malah tidak lebih layak dari sebelumnya, hanya untuk memulai upaya sesuai mimpi dan keinginannya yang terpendam begitu lama. Ada yang buka usaha di negeri baru, karena menurutnya usaha yang akan dibangunnya tidak tepat kalau dikembangkan di kampung halamannya. Ada pula yang berupaya mengaplikasikan keterampilannya, yang menurutnya lebih tepat untuk dikembangkan di daerah yang lebih maju. Begitu beragam alasan seseorang memulai hidup dengan harapan tumbuh dan sukses di daerah baru.

Sekarang, mari kita tilik bagaimana seorang perantau dengan segala alasannya meninggalkan negerinya mencoba hidup dengan orang lain sebagai “tuannya.” Seperti kisah-kisah haru yang sering kita temui, ada yang menuliskan dalam bentuk novel, ada pula yang menuliskan dalam biografinya, tentang bagaimana susahnya menjadi bawahan dengan pimpinan tempatnya bekerja. Semua kisah itu, ada yang menyanjung dan menuturkan kata “terimakasih” berulang-ulang, karena bantuan yang diterimanya dari atasan, tapi banyak pula yang mengisahkan cerita sedih dan memilukan.

Pemimpin, atasan, majikan, atau apapun label yang diberikan pada seorang pemberi kerja, menginspirasi banyak orang yang bekerja padanya untuk menjadi seorang penulis dadakan. Semua itu kadang hanya terpicu oleh pola kepemimpinan yang dirasakannya selama menjalani profesi.

Kini, bila mengarah pada pemimpin yang seolah sebagai “malaikat penyelamat” bagi bawahannya yang datang dari daerah, dirasakan pula begitu pentingnya memahami teknik kepemimpinan yang lebih luas dan dalam. Seorang pemimpin, mestilah mempunyai kelebihan dari para bawahan yang dipimpin dan institusi yang dikelolanya. Bukan malah menjadi “trouble maker” sehingga mengacaukan sistim ; yang kadang juga tidak jelas.

Pengetahuan tentang manajemen, ternyata menjadi begitu penting dipunyai oleh seorang pemimpin, baik pemimpin yang mengelola institusi kecil sekalipun. Semakin tinggi pengetahuan seorang pemimpin dalam mengelola tenaga kerja dan sistim yang ada, serta merta akan membawanya pada kesuksesan usaha. Namun bila tidak, maka sering pula kita temui lembaga dan institusi yang bongkar pasang tenaga kerja, gonta-ganti anak buah. Semua itu mencerminkan tidak adanya profesionalisme. Padahal, banyak pula ditemui di lapangan, tempat-tempat usaha yang di dalamnya memiliki banyak pekerja ulet, tangguh dan memiliki loyalitas serta dedikasi tinggi, tidak terkelola dengan baik.

Seorang pemimpin yang berjalan tanpa adanya pengetahuan cukup untuk memimpin, dan hanya mengedepankan diri sebagai seorang “malaikat penyelamat,” biasanya akan berakhir dengan kegagalan usaha, karena ditinggalkan oleh pekerja.

Memimpin itu tidak sulit, kata seorang teman pula. Yang dibutuhkan cuma sedikit, yakni pengetahuan dan keterampilan komunikasi, selebihnya adalah tugas para bawahan. Namun bila kebutuhan yang sedikit itu tidak dimiliki, maka alamat akan hancur sistim dan pengelolaan yang dibangun antara pemimpin dan yang dipimpin.

 
Sumber: Pewarta Indonesia

Kamis, 16 Februari 2017

Peresmian Jembatan Sungai Tajum

KRT, 13 Februari 2017
Harapan masyarakat Karangtengah, Desa Jambu Kecamatan Wangon akhirnya terwujud. Jembatan yang menjadi impian warga Karangtengah dan sekitarnya akhirnya diresmikan oleh Bupati Banyumas pada Sabtu, 11 Februari 2017. Acara peresmian jembatan itu ditandai dengan pemotongan pita oleh Bapak Bupati Banyumas Ir. H. Achmad Husein dilanjutkan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Kukuh Bayu Aji dari Banyumas.
Pemotongan Pita oleh Bupati Banyumas Ir.H. Achmad Husein diatas Jembatan

Dihadiri oleh ribuan warga, acara peresmian yang dilanjutkan pagelaran wayang kulit di Lapangan Karangtengah tersebut sangat meriah. Tampak para pedagang sejak siang hari sudah menjajakan dagangannya, sedangkan warga dan tamu undangan mulai berbondong-bondong menuju Lapangan Karangtengah pada sore hari.

Dalam acara peresmian tersebut, sambutan acara antara lain diisi oleh Bapak Akhmad Sumarno selaku tokoh masyarakat yang mewakili warga masyarakat Desa Jambu, Ketua Komisi B DPRD Banyumas Bapak Subagyo, S.Pd, M.Si dan Bapak Bupati Banyumas Ir. H. Achmad Husein. Dalam sambutannya, Bapak Akhmad Sumarno berharap Desa Jambu kedepan harus lebih maju, kemudian diakhir sambutannya beliau mengatakan bahwa dari informasi Bapak Bupati Banyumas dan Bapak Subagyo, SPd, MSi mengenai jalan dari jembatan menuju jalan raya, dari jembatan sampai ke Kaliurip dan dari jembatan sampai ke Karangmiri akan diaspal dan dibangun. Hal ini disambut gembira oleh warga mengingat kondisi jalan saat ini tidak layak. Senada dengan sambutan yang disampaikan oleh Bapak Akhmad Sumarno, sambutan oleh Bapak Subagyo, S.Pd, MSi dan Bapak Bupati Banyumas Ir. H. Achmad Husein juga berharap agar Desa Jambu kedepan semakin maju dengan kekompakan, persatuan dan kesatuan yang terus dipupuk serta jangan sampai lupa dengan sejarah perjuangan pembangunan di wilayah Desa Jambu terutama dengan para tokoh masyarakat dan wakil rakyat yang terus berjuang untuk kemajuan Desa Jambu.

Setelah pengguntingan pita oleh Bapak Bupati Banyumas, kemudian dilanjutkan penandatanganan prasasti sebagai simbol bahwa jembatan Sungai Tajum Karangtengah Desa Jambu ini sudah dibuka untuk umum dan digunakan oleh pengguna jalan.

 Penandatanganan Prasasti oleh Bapak Bupati Banyumas Ir. H. Achmad Husein

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan wayang secara simbolis kepada Ki Dalang Kukuh Bayu Aji yang menandakan bahwa pagelaran wayang akan dimulai.

Penyerahan Wayang Secara Simbolis Bapak Akhmad Sumarno dan Bapak Ir. H. Achmad Husein 
kepada Ki Dalang Kukuh Bayu Aji

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk bersama Ki Dalang Kukuh Bayu Aji disaksikan oleh ribuan penonton yang memadati Lapangan Karangtengah.
Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Kukuh Bayu Aji


Sumber: Redaksi KRT dari berbagai sumber


Sabtu, 04 Februari 2017

Persatuan dan Kesatuan antar Masyarakat Kunci Persatuan Bangsa

Sudah menjadi filosofis mendasar kita, yaitu pancasila. Dimulai dari sila pertama hingga sila ke-lima. Pancasila seharusnya dijadikan sebagai pandangan dan paradiga hidup seluruh bangsa Indonesia. Salah satu sila dalam pancasila adalah “Persatuan Indonesia” yang merupakan sila ke-tiga. Dalam lambang negara kita yaitu burung garuda, dibawah cakarnya-pun tertulis kalimat “Bhineka Tunggal Ika” yang diambil dari kitab Sotasoma karya Mpu Tantular pada masa lampau. Semboyan tersebut bukan sebagai pelengkap, tetapi merupakan gambaran dan harapan bangsa ini.


Tidak dapat dipungkiri bahwa butuh proses yang panjang untuk mempersatukan seluruh elemen bangsa dalam rangka untuk mencapai kemerdekaan. Awalnya para pendahulu bangsa kita dengan mudah diadu domba oleh pihak asing dengan strategi politik belah bambu sehingga dalam perjuangan untuk mengusir penjajah terasa sangat berat dan hampir selalu kalah. Era abad 20 paradigma perjuangan bangsa Indonesia mulai berubah. Dari yang awalnya bersifat separatis dan kedaerahan, kemudian berkelompok membentuk organisasi yang solid untuk melawan imperialisme dengan jalur politik dan diplomasi. Contohnya adalah tumbuhnya pergerakan nasional 1908, sumpah pemuda 1928 dan klimaksnya pada kemerdekaan 1945. Lalu apakah setelah Indonesia merdeka dan resmi berdiri sebagai negara kemudian dapat mempersatukan bangsa dengan mudah?

Banyak rongrongan yang mengancam integrasi bangsa. Salah satunya berasal dari internal bangsa itu sendiri. Banyaknya konflik dan adu kepentingan terkadang mengabaikan semangat rasa persatuan. Persatuan bangsa sesungguhnya bukan hanya bersatu dalam lingkup besar sebagai sebuah negara, melainkan menyatukan diri dalam sebuah masyarakat tingkat kecil yang memilki rasa kebersamaan dan solidaritas yang tinggi. Konsep persatuan Indonesia bukan hanya ditujukan untuk mempersatukan dalam tingkat negara, tetapi seharusnya sudah mendarah daging di setiap lapisan masyarakat.

Salah satu miniatur yang dapat dijadikan model dari persatuan dan kesatuan adalah pada tingkat desa. Desa yang menjadi daerah otonomi terendah harus menjadi ujung tombak persatuan bangsa. Desa selain berfungsi sebagai daerah administratif dan pemerintahan juga berfungsi sebagai daerah pembinaan masyarakat. Pemerintah desa tidak hanya bertanggungjawab secara administratif, terapi juga memilki tanggung jawab secara moral atas perkembangan masyarakat, termasuk dalam hal persatuan dan kesatuan.

Namun fakta yang berkembang di sebagian masyarakat desa tidaklah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Seiring perubahan jaman dan kebebasan individu dalam berpendapat, itulah yang menggeser hakikat persatuan antar masyarakat. Keberagaman masyarakat dalam berfikir dan berpendapat terkadang dapat menyebabkan benturan kepentingan hingga konflik secara terang-terangan. Bahkan, konflik yang terjadi bukan hanya sesaat, namun hingga berkepanjangan. Pemicunya adalah karena berbeda pendapat atas suatu hal atau karena merasa tersisih dalam sebuah posisi menyebabkan permusuhan yang lama. Lebih ironis lagi hingga menyebabkan dua orang yang berseteru tersebut saling menjelekkan satu sama lain dan saling menjatuhkan.

Tidak berhenti sampai di situ saja, permusuhan tersebut juga diikuti oleh kepentingan yang bersifat politis, sehingga memunculkan afiliasi-afiliasi baru dari orang awam. Orang lain yang awalnya tidak tersangkut dan tidak tahu tentang permasalahan orang yang berseteru, akhirnya menjadi pengikut dan tertanami rasa benci serta dendam terhadap orang yang dianggap musuh. Permusuhan tersebut akan nampak terasa sekali manakala pada saat tertentu ada event yang bersifat politik, semisal pemilihan kepala desa, pemilihan kepala dusun bahkan pemilihan ketua RT. Keduanya berebut pengaruh dan suara, kendati keduanya bukan orang yang dipilih.

Gambaran diatas merupakan salah satu contoh dari desintegrasi masyarakat dalam lingkup kecil. Fenomena tersebut merupakan suatu kerugian terutama bagi kemajuan sebuah kesatuan masyarakat. Dua pihak yang berseteru saja sudah menimbulkan permasalahan yang pelik, apalagi diikuti oleh orang-orang lain sehingga muncul dualisme atau sistem kubu dalam masyarakat yang tentu akan menghambat perkembangan dan pembangunan masyarakat. Dikatakan menghambat karena dalam menyikapi sesuatu pasti berbeda prespektif, termasuk dalam pembangunan.
 
Akhirnya, menciptakan persatuan dan kesatuan tidaklah mudah, apalagi dalam lingkup bangsa yang amat majemuk ini. Tetapi hal tersebut dapat dimulai dari lingkup kecil dan sederhana. Dalam lingkup kecil pun terkadang tidak mudah seperti kata-kata. Pendapat dan pemikiran antar inividu satu dengan yang lain tidaklah sama, namun yang dapat meredam perpecahan hanya dengan kesadaran, kesadaran akan pentingnya kebersamaan. Terlepas dari banyaknya perbedaan pendapat, itu semua wajar. Tetapi yang terpenting pendapat yang berbeda jangan sampai merusak kebersamaan antar masyarakat. Biarlah menjadi sebuah perbedaan karena perbedaan adalah indah. Seperti semboyan pancasila diatas, bhineka tunggal ika. Bersatunya masyarakat dalam tingkat kecil merupakan refleksi dari bersatunya bangsa. Bagaimana bangsa bisa bersatu jika antar individu dalam lingkup kecil tidak dapat bersatu? 

Sumber: Bingkai Kebersamaan

Rabu, 28 Desember 2016

Warga Karangtengah Minta Jalan Kabupaten

 KRT, Rabu 28 Desember 2016

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap, dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalulintas, yang berada permukaan tanah, diatas permukaan tanah, dibawah permukaan tanah dan atau air, serta diatas permukaan air, kecuali jalan kereta api dan jalan kabel. Berdasarkan statusnya, jalan dapat dikelompokkan menjadi jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten dan jalan desa. Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk pada jalan nasional dan propinsi yang menghubungkan ibukota kabupaten dan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, dengan pusat kegiatan lokal. Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antar permukiman dalam desa, serta jalan lingkungan.

Jalan Karangtengah-Jambu merupakan salah satu jalan desa yang strategis di wilayah Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. Jalan tersebut menghubungkan antara Kecamatan Wangon dan Kecamatan Purwojati, melalui Jalan Raya Ajibarang-Wangon, Desa Jambu, Desa Kaliurip, Desa Karangtalun dan Desa Purwojati. Selain menghubungkan dengan Kecamatan Purwojati, Jalan Karangtengah-Jambu juga menghubungkan antara Kecamatan Wangon dan Kecamatan Cilongok yang dapat ditempuh melalui Jalan Purwojati – Cilongok serta Kecamatan Ajibarang melalui Desa Kalitapen-Pancurendang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Jalan Karangtengah-Jambu ini sangat strategis. 

Seiring dengan selesainya proyek Jembatan Karangtengah, warga Karangtengah berharap agar Jalan Karangtengah-Jambu dapat ditingkatkan statusnya menjadi jalan kabupaten. Hal ini dikarenakan kondisi Jalan Karangtengah-Jambu yang tidak layak bagi kendaraan baik roda 2 maupun roda 4. Apalagi intensitas kendaraan dipastikan bertambah seiring dengan dibukanya jembatan permanen yang baru. Dulu ketika melalui jembatan gantung saja banyak kendaraan roda 2 yang melewati Jalan Karangtengah-Jambu baik warga Karangtengah, Karangmiri maupun dari desa lainnya seperti Desa Kaliurip, Karangtalun, Purwojati, Banteran serta warga dari desa di kecamatan lainnya yang jumlahnya mencapai ribuan orang yang melintas setiap harinya. Kalau sudah dilalui kendaraan roda 4 nantinya maka dipastikan intensitasnya semakin tinggi dan kapasitas kendaraan akan semakin berat sementara kondisi jalan saat ini tidak layak. Lebar Jalan Karangtengah-Jambu saat ini sekitar 4 meter sehingga kalau berpapasan antar kendaraan roda 4 harus menunggu di jalan yang lebih lebar. Sementara jika kendaraan roda 2 berpapasan dengan kendaraan roda 4 harus berhati-hati karena jalan sempit yang dapat membahayakn pengguna jalan tersebut.

Jembatan Karangtengah
Kondisi Jalan Karangtengah-Jambu meliputi jalan lingkungan desa dengan rumah penduduk disekitarnya serta jalan yang disekelilingnya berupa areal persawahan warga maupun bengkok desa. Dengan kondisi seperti ini maka peningkatan jalan relatif mudah. Bahkan ada warga Karangtengah yang rela tidak dibayar ganti rugi untuk pelebaran jalan asalkan ada sosialisasi terlebih dahulu dan bersama-sama komitmen untuk membangun desa. Sedangkan dari segi anggaran desa, jika Jalan Karangtengah-Jambu ditingkatkan statusnya menjadi jalan kabupaten maka akan meringankan anggaran desa karena untuk pemeliharaan jalan nantinya menggunakan dana APBD kabupaten. Jalan Karangtengah-Jambu nantinya diharapkan menjadi layak untuk dilalui kendaraan baik roda 2 maupun roda 4 karena idealnya lebar jalan minimal 6 meter dan kapasitas jalan dapat ditingkatkan. Pengerasan jalan juga harusnya menggunakan hotmix dan dibuat saluran air di bagian kanan kirinya serta jalur hijau dan penerangan jalan. 

Jika melihat kondisi Jalan Karangtengah-Jambu tersebut, maka sangat layak untuk ditingkatkan statusnya menjadi jalan kabupaten. Kriteria yang harus dipenuhi antara lain jalan poros desa yang diusulkan menjadi jalan kabupaten minimal harus memiliki lebar sekitar 4 meter. Seperti dikutip dari berita radarbanyumas.co.id, Sabtu 5 Desember 2015 tentang Ganti Status Harus Penuhi Kriteria. Kabid Prasarana Wilayah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Banyumas mengatakan untuk kriteria lebar jalan, diharapkan jalan poros desa yang diusulkan menjadi jalan kabupaten minimal harus memiliki lebar sekitar 4 meter. Sehingga ke depan akan lebih memudahkan dalam pengembangannya, karena tidak membutuhkan pelebaran jalan melalui pembebasan lahan. “Paling tidak dua kendaraan mobil bisa berpapasan. Soalnya masih banyak jalan poros desa yang lebarnya hanya 3 meter, sehingga kesulitan saat ada dua kendaraan yang berpapasan,” jelasnya. Selain itu, hubungan antara desa dan potensi lalu lintas jalan poros desa juga perlu dipertimbangkan. Menurutnya, jalan kabupaten diharapkan dapat menghubungkan antara satu desa dengan desa yang lain, sehingga akan menjadi satu kesatuan yang berfungsi sebagai penghubung. “Potensi aktivitas lalu lintas yang ada juga perlu diperhatikan, seperti mobilitas masyarakat, serta faktor lain yang perlu dipertimbangkan,” tegasnya.

Selain memenuhi kriteria, peningkatan status Jalan Karangtengah-Jambu juga sesuai dengan rencana pemerintah yang lebih memfokuskan peningkatan jalan kewilayah pinggiran. Seperti dikutip dari berita.suaramerdeka.com, 24 Desember 2016, Peningkatan Jalan Difokuskan ke Wilayah Pinggiran. Jalan di wilayah luar Kota Purwokerto, akan jadi fokus kegiatan peningkatan jalan yang dilakukan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (SDABM) 2017. Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas SDABM Banyumas Achmad Taufik mengatakan, sejauh ini kondisi jalan kabupaten yang berada di wilayah Kota Purwokerto dinilai sudah relatif baik. Oleh sebab itu, lanjutnya kegiatan peningkatan jalan pada 2017 akan lebih difokuskan pada wilayah pinggiran. “Lokasi kegiatan peningkatan jalan tersebar, namun lebih difokuskan ke daerah pinggiran

Pada tahun 2017, salah satu prioritas pembahasan RAPBD adalah peningkatan jalan desa. Seperti dikutip dari berita.suaramerdeka.com, 28 Desember 2016 tentang Prioritaskan Peningkatan Jalan Desa. Usulan peningkatan penanganan infrastruktur status jalan desa menjadi jalan kabupaten minta diprioritaskan pada 2017. Penanganan yang diminta adalah jalan dilebarkan dan pengaspalan hotmix. Hal itu terungkap saat digelar forum musyawarah pembangunan (Musrembang) dari tingkat bawah dan dikuatkan kembali lewat hasil reses anggota DPRD. Saat pembahasan RAPBD 2017, salah satu prioritas yang menjadi titik perhatian DPRD kepada eksekutif adalah merealisasikan usulan peningkatan jalan desa menjadi jalan kabupaten. 

Sumber: Redaksi KRT yang diolah dari berbagai sumber

Sabtu, 17 Desember 2016

Menanti Jembatan Pemersatu Desa Jambu

Desa Jambu adalah salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas. Desa Jambu terdiri dari 2 wilayah yaitu Sabrang Wetan (sebelah timur Sungai Tajum) dan Sabrang Kulon (sebelah kulon Sungai Tajum). Sabrang Wetan terdiri dari Grumbul Karangtengah (Wilayah Dusun III) dan Grumbul Karangmiri (Wilayah Dusun IV), sementara Sabrang Kulon terdiri dari Grumbul Karangreja (Wilayah Dusun I), Grumbul Blumbang (Wilayah Dusun I), Grumbul Kalitando (Wilayah Dusun I), Grumbul Jambu (Wilayah Dusun II). Sungai Tajum merupakan sungai yang memisahkan antara Sabrang Wetan dan Sabrang Kulon. Jembatan Gantung merupakan akses yang menyatukan kedua wilayah tersebut. Keberadaan jembatan gantung tersebut sangat penting sebagai akses jalan baik menuju sabrang wetan maupun sabrang kulon.

Akan tetapi seiring dengan dibangunnya jembatan permanen untuk menggantikan jembatan gantung yang pembangunannya dimulai pada bulan Juni 2016 membuat akses jalan Karangtengah-Jambu ditutup sementara kurang lebih selama 6 bulan. Masyarakat yang akan menuju jalan raya menuju Wangon atau Ajibarang harus memutar kendaraannya melalui Karangtawang-Karangasem Desa Banteran, melalui Glempang-Klapagading, melalui Pekodokan-Wlahar atau melalui Purwojati yang jarak tempuhnya lebih jauh.

Warga masyarakat yang berasal dari sabrang wetan yang akan menuju sabrang kulon harus memutar melewati jalan desa lain, begitu juga sebaliknya untuk warga sabrang kulon yang akan menuju sabrang wetan juga harus melalui jalan desa lain. Misalnya warga Karangtengah yang akan mengurus catatan sipil ke balai desa Jambu harus memutar melewati Karangtawang-Karangasem Desa Banteran. Dengan kondisi seperti ini maka seolah-olah terputus hubungan antara sabrang wetan dan sabrang kulon. Hal ini akan berdampak buruk antara lain bagi sektor perekonominan dan sosial bagi warga Karangtengah dan Desa Jambu pada umumnya. Bahkan dampak sosial yang sangat tidak diinginkan yaitu kurangnya persatuan dan kesatuan antara warga sabrang wetan dan sabrang kulon sehingga dapat menghambat pembangunan di Desa Jambu khususnya.

Setelah kurang lebih 6 bulan lamanya terputus akses jalan Karangtengah-Jambu, kini warga masyarakat Karangtengah Desa Jambu dan sekitarnya mulai sumringah, pasalnya jembatan permanen yang sedang dibangun sudah dalam tahap finishing. Masyarakat Karangtengah dan Desa Jambu menanti dibukanya akses jalan penghubung sabrang wetan dan sabrang kulon tersebut. Hal ini berarti masyarakat sedang menanti jembatan sebagai pemersatu wilayah Desa Jambu.

Dari pantauan redaksi (10/12), jembatan dengan nilai anggaran sekitar Rp 5,2 milyar yang dibangun tersebut dalam tahap finishing. Tampak konstruksi jembatan ini sudah melintang sepanjang 90 meter dengan lebar 4,5 meter diatas Sungai Tajum. Proses pembangunan jembatan ini menjadi perhatian publik masyarakat di Kecamatan Wangon dan sekitarnya. Tak sedikit warga yang setiap harinya ada yang mengabadikan proses pembangunan jembatan ini baik pagi, siang maupun sore hari. Muda-mudi, tua-muda seakan berlomba untuk menyaksikan dan mengabadikan proses pembangunan jembatan. Berbagai harapan dan cita-cita warga Karangtengah khususnya dan Desa Jambu umumnya dengan dibangunnya jembatan ini umumnya mereka ingin menjadikan momen pembangunan jembatan ini sebagai sarana untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan masyarakat Desa Jambu sekaligus sebagai tonggak awal kemajuan Desa Jambu.

Tampak Konstruksi Jembatan

Pembangunan jembatan permanen Karangtengah Desa Jambu ini akan menimbulkan dampak serta manfaat bagi masyarakat dari segi ekonomi maupun sosial serta jembatan ini juga sebagai simbol persatuan dan kesatuan Desa Jambu. Dari segi ekonomi antara lain dapat meningkatkan laju atau pertumbuhan ekonomi masyarakat Desa Jambu dan sekitarnya. Dari segi sosial, bangunan jembatan ini dapat memicu reaksi sosial dan budaya bagi masyarakat didaerah tersebut, antara lain mudahnya interaksi sosial antar masyarakat dari tempat yang dihubungkan oleh jembatan yaitu warga sabrang wetan dan sabrang kulon, terjalinnya komunikasi yang dapat mempererat ikatan persaudaraan dan ketentraman antar masyarakat yang ada di sabrang wetan dan sabrang kulon. Dengan interaksi dan komunikasi yang baik maka kedua masyarakat dari daerah yang dihubungkan dapat saling memahami nilai sosial budaya masing-masing sehingga persatuan dan kesatuan warga masyarakat dapat terus ditingkatkan. Karena dalam membangun desa, tidak hanya cukup dengan modal kemampuan intelektual atau finansial belaka. Namun persatuan dan kesatuan dalam masyarakat ini menjadikan modal utama yang harus terbangun dengan kuat. Apabila desa mampu berkembang lebih maju, tentunya akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Semoga Desa Jambu kedepan semakin bersatu untuk maju, sejahtera untuk semua.

Sumber: Redaksi KRT, 17 Desember 2016

Kamis, 24 November 2016

Mengubah Dunia

Inspirasi
Ada sorang lelaki tua, terbaring tidur tak berdaya melamunkan masa mudanya dalam kesendirian. Ditengah ketidakberdayaannya ia berbincang dengan dirinya sendiri. Dalam kesendiriannya banyaklah yang direnungkan. Hatinya berkata.

'Ketika aku menjadi seorang pemuda, aku bermimpi ingin merubah dunia. Seiring dengan waktu, usiaku kian bertambah. Dunia tidak berubah. Dunia tidak kunjung berubah. Maka impianku persempit untuk mengubah negeri ini. Namun impian itu juga tidak berhasil. Negeri ini juga tidak berubah.'

Mengubah Dunia Ada sorang lelaki tua, terbaring tidur tak berdaya melamunkan masa mudanya dalam kesendirian. Ditengah ketidakberdayaannya ia berbincang dengan dirinya sendiri. Dalam kesendiriannya banyaklah yang direnungkan. Hatinya berkata.

'Ketika aku menjadi seorang pemuda, aku bermimpi ingin merubah dunia. Seiring dengan waktu, usiaku kian bertambah. Dunia tidak berubah. Dunia tidak kunjung berubah. Maka impianku persempit untuk mengubah negeri ini. Namun impian itu juga tidak berhasil. Negeri ini juga tidak berubah.'

'Ketika usiaku sudah memasuki waktu senja. Dengan semangatku yang masih menggebu. Lalu aku memimpikan untuk bisa mengubah keluargaku. Orang-orang yang ku cintai. Orang-orang yang ada disekelilingku. Tetapi mereka juga tidak mampu aku merubahnya.'

Kini disaat terbaring lemah tidak berdaya. Air matanya mengalir tak terasa. Baju basah dengan air mata. Lelaki tua bergumam lirih pada dirinya sendiri.

'Bila waktu masa muda itu aku mengubah diriku sendiri. Maka aku akan menjadi panutan. maka aku bisa mengubah keluargaku. Memberikan inspirasi dan mendorong orang-orang disekelilingku untuk melakukan kebaikan. Dari mereka menanam dan menebarkan kebaikan, cinta dan kasih sayang sehingga mampu memperbaiki negeri ini. Tanpa disadari aku telah mengubah dunia.

Pesan Diatas bahwa kita tidak akan mampu mengubah dunia bila kita tidak mampu mengubah diri kita sendiri. Mulailah dengan melakukan kebaikan yang paling mudah seperti bertegur sapa, menebarkan senyum untuk pasangan hidup kita, membantu orang tua yang hendak menyeberang jalan atau sekedar bertanya bagaimana kabar dan duduk berbincang walau sebentar adalah wujud empati kita. Maka kebaikan itu menjadi virus yang menyebar kemana-mana. Pada saat itulah sebenarnya kita telah mampu mengubah dunia. 
 
 
Sumber: Mosiolog, diolah Tim Redaksi

Pelayanan Birokrasi Pemerintah

Birokrasi pemerintahan merupakan salah satu intitusi yang di sediakan untuk mengatasi dan mengatur problematika yang ada dalam kehidupan masyarakat. Birokrasi sebagai legalitas atau formalitas di setiap kegiatan masyarakat menjadi sebuah keharusan yang menghubungkan birokrasi dengan masyarakat. Seperti membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang merupakan suatu keharusan bagi masyarakat. Mulai dari urusan yang sederhana sampai urusan yang komplek seperti perijinan membuat usaha, semuanya akan berhubungan dengan birokrasi.

Pada dasarnya perijinan merupakan suatu bentuk pelaksanaan fungsi pengaturan yang bersifat pengendalian yang di miliki pemerintah tehadap kegiatan yang di lakukan oleh masyarakat.
Masyarakat yang membutuhkan pelayanan selalu berhubungan dengan pejabat, pegawai dan para pelaku birokrasi pemerintahan, kerena pejabat birokrasi memiliki kekuasaan untuk mendistribusikan pelayanan tersebut kepada masyarakat. Sehingga birokrasi sebagai organisasi kekuasaan menjadi lebihadi lebih kuat dan menempati hirarki atas. Kekuasaan birokrasi yang diwujudkan dalam jabatan. Para pejabat bisanya sangat menakutkan dan tidak bisa di tembus oleh lapisan masyarakat lemah. Hal ini menyebabkan pelayanan-pelayanan dalam masyarakat sering kali di tempatkan pada posisi yang tidak lagi pada posisi penting. 
 
Masyarakat Indonesia semakin sadar apa yang menjadi hak dan kewajibanya sebagai warga negara. Di era reformasi masyarakat sekarang berani mengajukan tuntutan dan aspirasi mereka kepada pemerintah. Demo, unjuk rasa dan aksi masa yang sering di lakukan anggota masyarakat untuk mennyampaikan aspirasi mereka kepada masyarakat adalah contoh dari kesadaran masyarakat atas hak-hak mereka. Dalam kondisi seperti ini, birokrasi pemerintah harus dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesianal, transparan, terbuka, tepat waktu, responsif dan adaptif. Suatu pemerintahan pada hakekatnya adalah pelayanan kepada masyarakat, Keberadaanya tidak untuk melayani diri pribadi tetapi untuk melayani masyarakat serta untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan bagi setiap anggota masyarakat untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya demi menciptakan tercapainya tujuan bersama . Sehingga birokrasi berkewajiban untuk menyelenggarakan pelayanan yang berkulitas dan memuaskan. Birokrasi yang ada di indonesia wajib memberikan pelayanan publik yang memuaskan dan demokratis. Negara indonesia merupakan negara yang demokratis, dan pemerintahan yang demokrtis lahir untuk melayani masyarakatnya.

Birokrasi sebagai organisasi dan institusi yang berhubungan dengan masyarakat, maka birokrosi yang ada tersebut harus mampu menjalankan peran dan fungsinya secara bertanggung jawab. Di harapkan birokrasi pemerintahan yang ideal merupakan sekumpulan orang yang terorganisir dan berfungsi untuk melayani dan menyelenggarakan administrasi yang ada di masyarakat. Oleh karena itu untuk mewujudkan birokrasi yang ideal tidak luput dari dukungan aparatur pemerintahan yang memiliki dedikasi yang tinggi dan moral yang baik.
 
Sumber: Mosiolog, diolah Tim Redaksi

Rabu, 23 November 2016

Pengembangan SDM di Desa

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam suatu perusahaan di samping faktor lain seperti modal. Oleh karena itu, SDM harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi organisasi, sebagai salah satu fungsi dalam perusahaan yang dikenal dengan manajemen sumber daya manusia (MSDM). MSDM tersebut dilakukan baik di daerah pedesaann maupun daerah perkotaan. Namun, fokus utama makalah ini adalah mengenai pengembangan SDM di pedesaan. Dimana pedesaan merupakan penopang ekonomi perkotaan. Jika SDM di pedesaan dibangun dan diorganisasi serta diberi pendidikan dan pelatihan yang baik, bukan tidak mungkin akan berkembang seperti SDM yang berada di perkotaan dimana mereka dapat menguasai teknologi. Sehingga diharapkan jika SDM baik di perkotaan maupun pedesaan dapat berkembang dengan pesat dan baik, maka Negara Indonesia yang termasuk dalam lima besar negara berpenduduk terbesar di dunia akan maju dan menjadi negara yang makmur dan sejahtera.
Menurut UU No. 6 Tahun 2014, desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan SDM yang baik bisa membuat desa menjadi lebih maju dan meningkatkan kehidupan masyarakat.

Menurut Peter Sange (1994), dalam bukunya yang terkenal “The Fifth Discipline“, diungkapkan bahwa agar organisasi mampu menyikapi perubahan diperlukan adanyan revitalisasi dan merubah pola pikir dari anggota atau organisasi untuk menguasai 5 disiplin yang di persyaratkan, yaitu:
1. Personal mastery, yaitu kemampuan untuk secara terus menerus dan sabar memperbaiki wawasan agar obyektif dalam melihat realita dengan pemusatan energi kepada hal-hal yang strategis.
2 System of thinking, yaitu kemampuan untuk memiliki suatu fondasi berpikir yang dinamis untuk realita dan proses interelasinya secara holistik sehingga tidak terjebak pada kemapanan atau melihat permasalahan secara linier dan symptomatis.
3 Mental model, yaitu memiliki suatu framework dan asumsi-asumsi dasar untuk menyikapi realita yang membuatnya mampu untuk bertindak secara tepat.
4 Building shared version, yaitu komitmen untuk menggali visi bersama tentang masa depan secara murni tanpa paksaan.
5 Team learning, yaitu kemampuan dan motivasi untuk belajar secara adaptif, 

Kelima disiplin tersebut perlu dipadukan secara utuh, dikembangkan dan dihayati oleh setiap anggota masyarakat dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Penyiapan sumber daya manusia atau SDM merupakan kunci keberhasilan pengembangan pedesaan baik dari segi ekonomi maupun sosial – budaya.
Masyarakat pedesaan kurang mempunyai kemampuan untuk memperoleh akses terhadap layanan-layanan dari pemerintah maupun swasta yang masyoritas berada pada pusat-pusat kota. Untuk itulah, Pemerintah perlu memprioritaskan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah pedesaan atau pedalaman. Masyarakat dari komunitas pedesaan atau pedalaman yang diharapkan menjadi pelaku utama untuk pembangunan komunitasnya secara berkelanjutan akan menjadi tanda tanya bagi kita semua. Pertanyaannya mampukah masyarakat pedesaan atau pedalaman tersebut bisa menjadi pelaku utama pembangunan jika tidak didukung oleh SDM yang memadai? 

Pengembangan SDM di wilayah pedesaan atau pedalaman merupakan hal yang sangat prioritas dan merupakan kewajiban pemerintah. Namun, dalam pengembangan itu perlu disesuaikan dengan kondisi suatu masyarakat. Kekayaan sumber daya alam, dukungan infrastruktur, kecanggihan kemajuan teknologi, kemampuan pembiayaan yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan masyarakat tidak akan bisa maksimal apabila tidak didukung oleh kemampuan SDM itu, elemen pendidikan dan kesehatan menjadi intrumen yang sangat strategis yang harus dikembangkan untuk terwujudnya SDM yang memadai.

Pengembangan SDM di Pedesaan

SDM yang unggul harus dapat dipertahankan secara berkelanjutan, untuk itu diperlukan suatu kebiajakan dalam pemberdayaan budaya sebagai aktualisasi kemampuan mengembangkan setiap individu secara mandiri artinya dengan budaya perusahaan yang melahirkan kebersamaan pola pikir mendorong kebiasaan SDM yang ungul memiliki komitmen dalam menjalankan peran yang ditugaskan kepadanya.

Jadi pemberdayaan haruslah dipandang sebagai suatu cara yang amat praktis dan produktif untuk mendapatkan yang terbaik dari SDM itu sendiri dan pengikut yang selalu siap dan komitmen atas keinginannya sendiri, sehingga ia tidak merasa diikat oleh organisasi birokratis.

Untuk menjamin kualitas SDM, dilakukan spesifikasi – spesifikasi SDM yang hendak dikembangkan harus ditentukan oleh kecenderungan (trend) kebutuhan indutri agar kompetitif secara global. Penekanan pembinaan SDM ditujukan pada dua jalur: tenaga kerja inovatif (yang padat pengetahuan) dan tenaga kerja efisien (yang bersertifikasi). Serta untuk menjamin aspek kuantitas, pembinaan SDM harus memanfaatkan teknologi sejak dini. 

Penyaluran SDM perlu diarahkan kepada kualitas tenaga kerja global. Yang diharapkan tingkat pengangguran Agar dapat terlaksananya pemanfaatan potensi SDM dalam kebiasaan produktif, perlu dipikirkan selain selain penguasaan ilmu dari informasi, pengetahuan dari pengalaman menjadi keterampilan, tetapi juga yang terkait dengan keinginan bersandarkan jati diri yang bersangkutan sebagai daya dorong, yang dalam hal ini diperlukan seperangkat keahlian yang perlu dikembangkan secara berkesinambungan yaitu menyangkut peningkatan keterampilan yang harus di tumbuh kembangkan melalui pengelaman yang diperoleh dari lingkungan diri sendiri dan atau pengelaman orang lain sebagai berikut :
1) fleksibilitas dalam berpikir ;
2) keberanian mengambil resiko ;
3) kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan ;
4) seni kepemimpinan.
 
Kata kunci dalam usaha memanfaatkan potensi SDM yang unggul terletak pada kemampuan untuk mengorganisir kekuatan dalam “kerja tim“ dan pelaksanaan dari pelatihan yang berkelanjutan di pedesaan.
Membangun kerja tim di pedesaan, bukan sekedar untuk mengelompokkan orang – orang berada dalam satu tim, melainkan adanya kesiapan diri dari setiap anggota tim atas potensi yang dapat diberikannya untuk menjalankan peran dalam tim sebagai peran driver (mengembangkan gagasan, memberi arah, menemukan hal-hal baru); planner (menghitung kebutuhan tim, merencanakan strategi kerja, menyusun jadwal); enable (ahli memecahkan masalah, mengelola sarana atau sumber daya, menyebarkan gagasan, melakukan negosiasi); exec (mau bekerja menghasilkan output, mengkoordinir dan memelihara tim) controller (membuat catatan, mengaudit dan mengevaluasi kemajuan tim)

Pelatihan, merupakan investasi pelatihan dan pendidikan yang berkesinambungan bagi staf dan manajemen yang harus direncanakan secara menyeluruh dan sistimatis sebagai usaha peningkatan potensi SDM yang unggul masa keni dan masa depan.
 
Sumber: Mosiolog, diolah tim redaksi